Namanya Ali
Uli adalah gadisnya…
Tiap hari…saat Ali sedih…Uli selalu menemani. Selalu menyediakan waktu. Begitu pun sebaliknya. Mereka saling mendukung, saling memuja dan saling mengkhawatirkan. Tapi Ali tidak pernah mencintai Uli. Uli sadar bahwa Ali tidak mencintainya…
Uli menikah…Dan tinggalah Ali sendiri.
Mereka masih berhubungan baik. Jauh dalam hati Uli menginginkan Ali mengakui keberadaanya. Entah untuk apa. Karena sesungguhnya keluarga baru Uli yang sekarang masih menjadi keluarga bahagia. Uli tauw bahwa suaminya adalah pria yang menyenangkan. Pria yang begitu membuat nyaman.
Ali menikah…Dan Datanglah Uli
Di hari pernikahan itu Uli datang terlambat dengan kebaya cokelatnya dia berlari kecil di antara gerimis kecil hari itu. Uli melangkah menuju gedung acara resepsi pernikahan Ali. Di detik sebelumnya, Ali berharap cemas apakah Uli akan tetap datang di hari bahagianya. Ali khawatir terjadi sesuatu. Dan ketika wajah Uli muncul di depan pintu masuk gedung yang lebar, Ali berlari seoalah-olah teramat khawatir. Semua orang melihat mereka. Bahkan suami Uli yang berjalan di belakang Uli dan juga pengantin wanita di pelaminan acara itu. Semua melihat itu.
Dan aku yang tetap berdiri menyambut kedatangan Ali kembali ke atas pelaminan, karena aku adalah pengantin wanita di resepsi itu yang juga menyadari sesuatu, seperti mereka menyadarinya.


comment